Edisi 121 – Mewujudkan Ukhuwah Hakiki

0

Seruan “Selamatkan Muslim Uighur!” beberapa hari ini terus bergema di media sosial di Tanah Air. Penindasan terhadap kaum Muslim di Propinsi Xinjiang oleh Pemerintah Komunis Cina telah menggerakkan spirit ukhuwah islamiyyah. Berbagai aksi juga digelar di sejumlah daerah. Termasuk di depan Kedubes Cina. Mereka menyampaikan protes keras atas tindak represif terhadap Muslim Uighur.

Sayang, sejauh ini respon para pemimpin Dunia Islam, termasuk Indonesia, terhadap persoalan Uighur amat lemah. Diduga kuat lemahnya sikap mereka karena Cina sudah menjalin hubungan ekonomi kuat, termasuk dengan Indonesia, yang diikat oleh utang dan investasi. Di Indonesia, investasi Cina ada di peringkat ketiga. Nilainya sebesar 2,3 miliar dolar AS atau 16,2 persen dari total PMA.

Muslim Itu Bersaudara

Sesama kaum Mukmin telah Allah SWT tetapkan sebagai saudara. Islam telah menghilangkan berbagai sekat perbedaan; suku bangsa, ras, warna kulit dan status sosial. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) di antara kedua saudara kalian itu (TQS Hujurat [49]: 10).

Bahkan kuat atau lemahnya persaudaraan dengan sesama Mukmin menentukan kualitas keimanan seseorang. Baginda Nabi saw. bersabda:

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai bagi saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya sendiri (HR Muslim).

Karena itu kecintaan hakiki kepada sesama Muslim tercermin dari sikap yang senantiasa menginginkan saudaranya mendapatkan kebaikan, sebagaimana ia menginginkan kebaikan untuk dirinya. Juga tidak rela saudaranya tertimpa keburukan, sebagaimana ia pun tak menghendaki keburukan itu menimpa dirinya. Inilah hubungan laksana satu tubuh sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh terjaga (tak bisa tidur) dan merasakan demam (HR Muslim).

Karena itu tentu ironi jika para penguasa Muslim malah membiarkan sesama Muslim ditindas dan dibunuh kaum kafir, sedangkan mereka menonton belaka. Tidak memberikan bantuan dan pembelaan. Bahkan mereka bersekutu dengan para penindasnya. Padahal Nabi saw. telah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Janganlah ia menzalimi dan menyerahkan saudaranya (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Membiarkan sesama Muslim tertindas bukan hanya merusak amal dan menyebabkan dosa, tetapi juga akan mengundang ancaman Allah SWT berupa datangnya bencana besar. Firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Orang-orang  kafir itu, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (TQS al-Anfal [8]: 73).

Imam ath-Thabari menjelaskan kalimat ‘tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu’ bermakna tidak memberikan pertolongan. Padahal Allah SWT telah memerintah kita untuk menolong kaum Mukmin yang meminta pertolongan:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan (pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Perangkap Cina

Ada dua hal yang menyebabkan lunturnya ukhuwah islamiyyah dari dada umat, khususnya para penguasanya: Pertama, munculnya sikap ta’ashub ‘ashabiyyah (fanatisme kelompok, kesukuan/kebangsaan atau nasionalisme) yang menggeser spirit ukhuwah islamiyyah. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. sudah mengingatkan kaum Muslim agar menjauhi sikap ‘ashabiyyah:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyah. Tidak termasuk golong kami orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah. Tidak termasuk golongan kami orang yang mati di atas dasar ‘ashabiyah (HR Abu Dawud).

Kedua, kepentingan ekonomi. Dengan dalih pinjaman dan investasi, para penguasa negeri-negeri Muslim jinak di hadapan negara-negara asing. Ini pula yang terjadi pada penguasa negeri ini.

Selain itu, Pemerintah Komunis China dikabarkan juga menggelontorkan banyak uang kepada sejumlah ormas Islam dengan tujuan sama: membungkam suara mereka (Wall Street Journal, 11/12/2019). Pemerintah Cina juga menawarkan beasiswa kepada pelajar Muslim di Indonesia untuk kuliah ke negeri Tiongkok.

Tidak heran jika sejumlah pejabat dan tokoh Muslim di Indonesia seperti masuk angin. Meski tidak terang-terangan, mereka membenarkan tindakan represif pemerintah Komunis Cina kepada Muslim Uighur sebagai kebijakan deradikalisasi, kontra terorisme dan melawan separatisme. Mereka seolah tak peduli bahwa tindakan represif Pemerintah Cina amat brutal seperti memisahkan orangtua dengan anak; memaksa Muslim minum khamr, makan daging babi; melarang shalat dan puasa, juga membaca al-Quran; memenjarakan kaum Muslimah bahkan memperkosa dan membunuh mereka. Namun, para pejabat dan tokoh itu bergeming. Seperti mati rasa. Inilah yang diingatkan Allah, yakni orang yang hatinya keras melebihi batu (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 74).

Padahal Allah SWT telah mengharamkan kaum Muslim bersekutu dengan kaum kafir. Apalagi yang menindas dan menumpahkan darah kaum Muslim (Lihat: QS Ali Imran [3]: 118). Allah SWT juga melarang kita memberikan celah kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslim (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 141). Termasuk lewat utang dan investasi.

Ukhuwah Hakiki

Umat Islam adalah ummmah wâhidah (umat yang satu). Umat ini memiliki akidah dan syariah yang sama. Umat ini satu sama lain ditetapkan oleh Allah SWT sebagai ikhwah (saudara). Umat Islam digambarkan Rasulullah saw. ka al-jasad al-wâhid (laksana satu tubuh). Ukhuwah yang demikian kuat itu hanya akan dapat diwujudkan secara nyata ketika ada yang menyatukan umat dalam satu negara. Itulah Khilafah.

Sebaliknya, ketiadaan Khilafah, seperti saat ini,  menyebabkan umat Islam tercerai-berai dalam banyak negara. Karena faktor nasionalisme, masing-masing negara sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tak peduli dengan nasib saudaranya yang lain. Lihatlah penderitaan kaum Muslim akibat ditindas oleh kaum kafir di Palestina, Irak, Suriah, Myanmar, India dan tentu Xinjiang. Tidak ada satu pun penguasa negeri Islam yang mengirimkan pasukan untuk membela saudara-saudaranya itu.

Berbeda dengan saat ada Khilafah. Sebabnya, kata Rasulullah saw.:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas dibuktikan dalam sejarah. Antara lain oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel.

Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’âtsir al-Inâfah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan.

Menurut Ibn Khalikan dalam Wafyah al-A’yan, juga Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!” Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah.

Terjadilah peperangan sengit. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Sang Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Semoga Allah SWT merahmati Al-Mu’tashim Billah.

Semoga saja umat Islam di seluruh dunia segera bisa mewujudkan ukhuwah yang hakiki. Semoga mereka segera memiliki Khilafah, juga pemimpin pemberani yang mengayomi—seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah—yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum Muslim; dan menolong kaum tertindas. Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

ثُمّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad). []

—***—

Hikmah: 

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika kalian memahaminya. (TQS Ali Imran [3]: 118). []

—***—

Your email address will not be published. Required fields are marked *