Edisi 202 – Keyakinan, Ketaatan dan Kemenangan

0

Tahun ini, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha 1442 H masih dalam suasana penuh keprihatinan. Pandemi Covid-19 belum berakhir. Pada saat yang sama, ekonomi makin terpuruk. Utang luar negeri makin membengkak. Daya beli masyarakat kian menurun. Belum lagi korupsi selama masa pandemi ini makin menjadi-jadi.

Kerusakan demi kerusakan terjadi. Tentu harus segera diperbaiki. Solusi tunggal atas segenap masalah yang menimpa umat ini adalah mengembalikan kehidupan Islam dengan penerapan syariah Islam secara kaffah. Penerapan Islam kaffah merupakan kemenangan hakiki, sekaligus  wujud ketaatan umat. Ketaatan tentu memerlukan modal penting berupa keyakinan.

Keyakinan Nabi Ibrahim dan Ismail as.

Pada syariah kurban, kita mengenang kembali peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail as. Bagi Nabi Ibrahim as., Ismail adalah buah hati, harapan dan kecintaannya yang telah lama didambakan. Namun, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah kepada beliau untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Beliau pun dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan sedikitpun, segera menjalankan perintah-Nya. Keyakinan yang kokoh pada diri Nabi Ibrahim bahwa ini adalah perintah Allah SWT telah menyingkirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta, dan dunia. Perintah amat berat itu pun disambut oleh Ismail as. dengan penuh kesabaran. Ismail as. pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya (Lihat: QS ash-Shaffat [37]: 102).

Begitulah hebatnya akidah. Keyakinan yang tertancap kuat dan tak tergoyahkan telah mampu melahirkan ketaatan total tanpa mempertimbangkan hal-hal duniawi. Keyakinan semacam ini seharusnya melahirkan kecintaan untuk kembali pada syariah Allah. Tentu dengan sekuat tenaga menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan.

Hari Kemenangan

Hari Raya umat Islam identik dengan hari kemenangan. Pertanyaannya: Sudahkah kita menjadi pemenang? Kemenangan hakiki adalah ketika umat Islam menjadi umat yang taat (bertakwa) kepada Allah SWT.

Sayang, saat ini kita menyaksikan masih banyak perintah Allah SWT yang belum diamalkan. Masih banyak larangan-Nya yang dilanggar. Singkatnya, masih banyak hukum-hukum syariah yang dicampakkan. Terutama berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara; dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan lain sebagainya.

Saat syariah Islam belum diterapkan secara kaffah dalam kehidupan, saat itu pula kehidupan kaum Muslim terpuruk, terjajah, hancur dan tertindas. Saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Irak, Afganistan, Xinjiang, Chechnya, Rohingya, Thailand Selatan, Filipina Selatan, dsb dijajah, disiksa dan banyak yang diusir dari negerinya. Tak ada yang melindungi dan membela mereka.

Pangkal keterpurukan ini adalah karena umat Islam telah banyak menyimpang dari al-Quran. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah SWT:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah “menyalahi perintah-Ku dan apa saja yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323).

Adapun penghidupan yang sempit—di dunia—tidak  lain adalah kehidupan yang semakin miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini di Dunia Islam.

Hari Raya Idul Adha sudah berlalu. Tugas kita adalah membuktikan bahwa kita adalah umat yang layak dan berhak untuk disebut sebagai umat yang bertakwa di hadapan Allah SWT, yakni yang siap tunduk secara total kepada syariah-Nya.

Kunci Meraih Kemenangan

Ada tiga kunci untuk meraih kemenangan umat Islam: Pertama, memantaskan diri sebagai hamba yang kokoh keimanannya, mendalam keilmuannya dan dekat dengan Allah SWT. Kedua, maksimal dalam melakukan upaya perubahan dari suatu kondisi menuju kondisi lain yang lebih baik. Ketiga, sabar atas panjangnya perjuangan dan atas tipudaya musuh.

Mengapa harus memantaskan diri dari sisi keimanan dan ketakwaan? Karena kemenangan bagi umat Islam adalah karunia dari Allah. Yang wajib kita lakukan adalah melakukan ikhtiar dalam perjuangan untuk mengubah keadaan dunia yang sebelumnya jauh dari aturan Islam, menuju keadaan yang tunduk dan patuh pada aturan Allah SWT. Inilah perubahan menuju penerapan syariah Islam secara kaffah.

Perubahan itu harus diupayakan sendiri oleh umat Islam. Sebabnya, Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’d [13]: 11).

Artinya, perubahan bisa bermakna mengubah keadaan yang buruk menjadi baik. Bisa juga bermakna merawat anugerah yang baik dari Allah agar tidak berubah menjadi buruk karena perilaku kita. Hal kedua inilah yang dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi dan Imam al-Baidhawi saat menafsirkan ayat di atas.

Adapun terkait sabar, Allah SWT berfirman:

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ – إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka. Jangan (pula) bersempit dada terhadap tipudaya yang mereka rencanakan. Sungguh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan para pelaku kebaikan  (TQS an-Nahl [16]: 127-128).

Karena itu bersabar menghadapi musuh dakwah yang menyalahi dan menentang dakwah adalah kunci kemenangan. Ini adalah sunnatullah.

Mengembalikan Kemenangan

Berbicara kemenangan hakiki, penting bagi kita menengok momen khutbah Haji Wada’ Rasulullah. Saat melaksanakan haji tersebut, Nabi saw. berkhutbah di hadapan khalayak. Beliau berkhutbah tidak hanya sekali. Beliau berkhutbah di Hari Arafah, di Hari Nahr dan di pertengahan Hari Tasyrik.

Beliau berwasiat, memberi nasihat dan memberi pengarahan sehingga ketika beliau meninggalkan umat ini, mereka dalam keadaan terang-benderang.

Beliau berpesan terkait perlindungan darah, harta dan kehormatan. Wujud perlindungan tersebut dijelaskan dalam rangkaian khutbah panjangnya. Perlindungan tersebut meniscayakan ikatan akidah (bukan kesukuan), kepemimpinan Islam dengan model al-khulafa’ al-rasyidun dan fondasi kepemimpinan tersebut berupa akidah Islam. Jabir bin Abdullah ra. mengatakan, ketika matahari mulai tergelincir pada hari Arafah, Nabi saw. berkhutbah, antara lain:

 إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

Sungguh darah dan harta kalian haram (suci) seperti sucinya hari kalian ini, di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini (HR Muslim).

Usai Baginda Nabi saw. menyampaikan Khutbah Wada’ yang cukup panjang, turunlah firman Allah SWT terkait kesempurnaan Islam:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, telah mencukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah meridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Saat ini, ikhtiar mengembalikan kemenangan umat Islam bermakna membawa umat pada posisi terbaik, sebagai kekuatan di dunia yang diperhitungkan dalam percaturan politik global. Perjuangan mengembalikan kekuatan umat ini memang tidak mudah dan tidak ringan. Momentum Hari Raya Idul Adha yang telah berlalu, yang insya Allah telah melahirkan kembali banyak umat Islam yang memiliki kadar keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT yang tinggi, menjadi modal bagi terbitnya fajar kemenangan Islam di muka bumi ini (Lihat: QS an-Nur [24]: 55).

Penutup

Kemenangan demi kemenangan yang berhasil diraih Rasulullah saw. dan para Sahabatnya serta para khalifah sesudahnya adalah karena mereka menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan mereka. Ini pulalah yang menjadikan generasi Islam terdahulu mampu membangun kekuatan “super power”, yang disegani kawan dan ditakuti lawan.

Kepemimpinan Islam inilah yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya, baik Muslim maupun non-Muslim; mampu melahirkan para pejuang Islam yang tangguh dalam mengemban misi pembebasan di berbagai negeri; mampu menumbuhsuburkan perkembangan sains dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia; mampu menjadikan negeri Islam sebagai kiblat perkembangan sains dan teknologi pada saat bangsa Eropa masih tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Itulah kemenangan umat Islam dan kebaikan untuk dunia.

Setelah merayakan kemenangan Idul Adha sebagai kemenangan personal, semoga kita bisa segera merayakan kemenangan kolektif umat dalam percaturan politik dunia. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Sungguh Kami telah mengutus sebelum engkau (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaum mereka. Para rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup). Lalu Kami melakukan pembalasan terhadap para pendosa. Hak Kamilah untuk menolong kaum Mukmin. (TQS ar-Rum [30]: 47). []

Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *