Edisi 210 – Keteladanan Pemimpin Di Masa Sulit

0

“Alangkah buruknya aku ini sebagai pemimpin jika aku memakan bagian yang baik, lalu aku memberi rakyat makanan sisanya.” (Ibn Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/312).

Begitulah kalimat yang pernah terucap dari Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab ra. Sebagai pemimpin Negara Islam (Khilafah), Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. adalah sosok pemimpin yang sangat sederhana. Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa, bahwa Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khaththab ra. pada masa Kekhilafahannya biasa memakai jubah yang bertambal di dua pundaknya.”

Teladan Di Masa Susah 

Pada masa kepemimpinan Umar bin al-Khaththab ra. pernah terjadi paceklik. Pada saat itu daerah Hijaz benar-benar kering kerontang. Penduduk pedesaan banyak yang mengungsi ke Madinah. Mereka tidak lagi memiliki bahan makanan sedikitpun. Mereka segera melaporkan nasib mereka kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.

Khalifah Umar ra. cepat tanggap. Beliau segera menindaklanjuti laporan ini. Beliau segera membagi-bagikan makanan dan uang dari Baitul Mal hingga gudang makanan dan kas Baitul Mal menjadi kosong. Beliau pun memaksakan dirinya untuk tidak makan lemak, susu maupun makanan enak lainnya yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik ini berlalu.

Jika sebelumnya selalu dihidangkan roti, lemak dan susu, pada masa paceklik ini beliau hanya makan minyak dan cuka. Beliau hanya mengisap-isap minyak dan tidak pernah kenyang dengan makanan tersebut. Akibatnya, warna kulit beliau menjadi hitam. Tubuhnya pun menjadi kurus. Banyak yang khawatir beliau akan jatuh sakit dan lemah. Kondisi ini berlangsung selama 9 bulan.

Khalifah Umar ra. selalu mengontrol rakyatnya di Madinah pada masa paceklik ini. Menyaksikan kondisi rakyatnya makin menderita, beliau mengirim surat kepada gubernurnya di Irak, Abu Musa al-Asy’ári ra., yang isinya: “Bantulah umat Muhammad saw. Mereka hampir binasa!”

Beliau pun mengirim surat yang sama kepada Gubernur Mesir ‘Amru bin al-‘Ash ra. Kedua gubernur ini segera mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar. Terdiri dari makanan dan bahan pokok berupa gandum.

Abu Ubaidah ra. pun pernah datang ke Madinah membawa 4000 hewan tunggangan yang dipenuhi makanan. Khalifah Umar ra. segera memerintahkan dia untuk membagi-bagikan makanan tersebut di perkampungan sekitar Madinah.

Pada masa paceklik ini, Khalifah Umar ra. pernah keluar bersama Abbâs ra., paman Rasulullah saw., untuk melakukan shalat istisqâ’ (meminta hujan). Usai shalat Khalifah Umar ra. berdoa, “Ya Allah, sungguh jika kami ditimpa kekeringan sewaktu Rasulullah saw., masih hidup, maka kami meminta kepada-Mu melalui Nabi kami. Sekarang kami meminta kepada-Mu melalui paman Nabi kami.” (HR ath-Thabarani).

Tidak lama setelah itu, masa paceklik berakhir. Keadaan berubah kembali menjadi normal sebagaimana biasanya. Akhirnya, para penduduk yang mengungsi bisa pulang kembali ke rumah mereka.

Demikianlah. Khalifah Umar ra. berhasil melewati masa-masa kritis itu dengan bijaksana. Beliau mampu menyelamatkan rakyatnya dari musibah kekeringan dan kondisi sulit itu melalui kebijakannya yang tepat.

Keteladanan Khalifah Umar ra. hanyalah satu dari sekian banyak keteladanan para pemimpin Islam sepanjang Kekhilafahan Islam. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Sultan Sulaiman al-Qanuni dan banyak lagi pemimpin Islam lainnya.

Ironi Pemimpin Masa Kini

Lalu bagaimana dengan para pemimpin dalam sistem pemerintahan sekular saat ini? Adakah di antara mereka yang berusaha meneladani Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.? Tidak ada, kecuali sekadar klaim, yakni klaim dari para pendukung rezim ini bahwa pemimpin mereka mirip dengan Umar bin al-Khaththab ra. Faktanya tentu jauh panggang dari api.

Di negeri ini, selama pandemi Covid-19 yang sudah dua tahun berjalan, kehidupan mayoritas rakyat benar-benar terpuruk. Banyak rakyat menjerit karena kehilangan ladang penghidupan. PHK massal di mana-mana. Pengangguran semakin banyak. Angka kemiskinan makin meningkat. Banyak yang mengalami kesulitan sekadar untuk bertahan hidup.

Ironisnya, saat yang sama, selama pandemi para pejabat malah makin kaya-raya. Pundi-pundi rekeningnya mendadak banyak yang bertambah. Bahkan ada menteri yang baru menjabat 9 bulan, kekayaannya bertambah sekitar 10 miliar rupiah. Sejumlah pejabat negara lainnya juga mengalami kenaikan jumlah harta kekayaan selama pandemi Covid-19 berdasarkan catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jumlah itu diketahui berdasarkan data yang diakses Kompas.com dalam situs web elhkpn.kpk.go.id milik KPK. Peningkatan kekayaan selama pandemi juga dialami oleh kepala negara. Demikian sebagaimana dilansir oleh banyak media baru-baru ini.

Pertanyaannya: Dari mana sumber kenaikan harta mereka? Yang pasti bukan dari kenaikan gaji atau tunjangan mereka. Andai pun ada kenaikan gaji dan tunjangan mereka, tentu kita bertanya-tanya bagaimana mungkin ada menteri yang baru 9 bulan menjabat, harta-kekayaannya bertambah Rp 10 miliar atau lebih dari Rp 1 Miliar perbulan? Karena itu boleh jadi pertambahan kekayaan tersebut karena: Pertama, berasal dari sumber pendapatan lain di luar gaji dan tunjangan mereka sebagai pejabat. Sebagaimana diketahui, banyak pejabat di negeri ini yang juga sekaligus pengusaha. Misalnya, ada menteri yang memiliki puluhan perusahaan, di antaranya perusahaan tambang batubara. Meski tidak ada larangan seorang pejabat sekaligus pengusaha, jelas di sana ada potensi penyalahgunaan jabatan untuk mendukung kepentingan usaha/bisnis pribadi.

Kedua, boleh jadi penambahan harta kekayaan mereka bersumber dari yang tidak halal, seperti hadiah atau fee dari para pengusaha (kelompok oligarki) sebagai kompensasi dari kebijakan penguasa yang mendukung bisnis mereka, suap-menyuap dan korupsi. Sebagaimana diketahui, korupsi para pejabat penyelenggara pada masa pandemi bukannya surut, malah makin gila-gilaan. Salah satunya korupsi triliunan rupiah uang bansos.

Melihat fakta ini, rasanya sulit bagi siapapun untuk menemukan pemimpin yang baik di dalam sistem pemerintahan sekular saat ini. Kalaupun ada, jumlahnya hanya segelintir orang. Sebabnya, mereka yang akan memegang tampuk kekuasaan sudah dipastikan berada di bawah kendali para cukong-cukong yang dulu men-support mereka dengan banyak gelontoran dana pada musim pemilihan. Mereka tentu akan lebih loyal kepada para pemodal mereka daripada kepada rakyat mereka. Karena itu jangan heran jika banyak pejabat yang kehilangan rasa empati sekalipun banyak rakyatnya yang menderita pada musim pandemi saat ini. Mereka lebih memilih memperkaya diri dan koleganya (oligarki) daripada peduli kepada rakyat mereka sendiri.

Kekuasaan Adalah Amanah

Dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah amanah. Sebagaimana diketahui, salah satu tujuan penegakan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) yang menerapkan syariah Islam secara kaffah adalah untuk mensejahterakan rakyat. Seorang waliyul amri (pemimpin) dibebani amanah. Di antaranya menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya melalui kebijakan yang dia ambil. Peran dan tanggung jawab waliyul amri dalam masalah ini sangat besar. Kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas amanah kepemimpinannya. Nabi saw. bersabda:

فَاْلإِمَامُ اْلاَعْظَمُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Amanah penguasa seperti dalam hadis di atas adalah memelihara urusan-urusan rakyat (ri’âyah syu`ûn ar-ra’yah). Ri’âyah itu dilakukan dengan siyasah (politik) yang benar, yaitu seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim. Ri’âyah atau siyâsah yang baik itu tidak lain dengan menjalankan hukum-hukum syariah serta mengutamakan kemaslahatan dan kepentingan rakyat. Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang amanah.

Pemimpin amanah akan menunaikan tugas ri’âyah, yakni memelihara semua urusan rakyatnya seperti: menjamin pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan bagi tiap individu warga negara); menjamin pemenuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara cuma-cuma; serta melindungi rakyat dari berbagai gangguan dan ancaman. Dalam memelihara urusan rakyat, penguasa hendaklah seperti pelayan terhadap tuannya. Sebabnya, “Sayyidu al-qawmi khâdimuhum (Pemimpin kaum itu laksana pelayan mereka).” (HR Abu Nu’aim).

Rasul saw. banyak memperingatkan penguasa dan pemimpin yang tidak amanah/khianat dan zalim. Mereka adalah pemimpin jahat (HR at-Tirmidzi). Pemimpin yang dibenci oleh Allah SWT, dibenci oleh rakyat dan membenci rakyatnya (HR Muslim). Pemimpin yang bodoh (imâratu as-sufahâ’), yakni pemimpin yang tidak menggunakan petunjuk Rasul dan tidak mengikuti sunnah beliau (HR Ahmad). Penguasa al-huthamah, yakni yang jahat dan tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya (HR Muslim). Penguasa yang menipu (ghâsyin) rakyat (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, sistem sekular saat ini justru banyak melahirkan para pemimpin yang banyak dicela oleh Rasulullah saw. sebagaimana dalam hadis-hadis di atas.

Alhasil, sistem sekular yang nyata-nyata rusak, dan melahirkan banyak pemimpin rusak, sudah saatnya dicampakkan dan ditinggalkan. Saatnya diganti dengan sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَٰهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

Andai kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (TQS al-Mu`minun [23]: 71). []

Your email address will not be published. Required fields are marked *